Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Transmisi daya listrik tanpa kabel (Wireless)

SEJARAH SINGKAT

Nikola Tesla, pada awal abad ke-19 mungkin adalah orang pertama yang menemukan dan memperkenalkan konsep pengiriman energi listrik secara nirkabel ke dunia melalui penelitian yang dilakukannya. Namun, hal ini tidak serta merta membuat temuannya diterima secara antusias oleh para ilmuwan saat itu. Sebaliknya, konsep yang ditemukan Tesla saat itu dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya bagi organisme hidup, mengingat efek samping yang dapat ditimbulkan oleh medan elektromagnetik yang dipancarkan dapat menyebabkan berbagai macam penyakit bagi organisme yang menjadi sasarannya. Hal inilah yang lambat laun membuat hasil penelitian Tesla umumnya cenderung dilupakan selama puluhan tahun.

Baca juga : Listrik di rumah spaning (redup), tapi kok tetangga enggak?

Transmisi daya listrik tanpa kabel (Wireless)

Baru kemudian pada tahun 2007, sekelompok peneliti dari MIT (Massachusetts Institute of Technology) Amerika melakukan penelitian tentang Wireless Power Transfer dengan menggunakan prinsip yang hampir sama dengan konsep Tesla namun memiliki perbedaan yang mendasar. Jika yang diteliti Tesla adalah transfer daya listrik menggunakan teknik radiasi jarak jauh seperti gelombang mikro dan gelombang radio, maka berbeda dengan MIT yaitu menggunakan konsep medan dekat (near field) dengan jarak dekat antara pengirim dan penerima. Pada akhirnya peneliti berhasil mentransfer daya listrik secara nirkabel dengan jarak lebih dari 2 meter dan daya 60 watt, dimana efisiensinya mencapai 40% (Kurs, 2007). Hasil penelitian ini kemudian menjadi titik balik pengembangan sistem WPT.

Dua peneliti (Sibakoti & Hambleton, 2011), mendemonstrasikan hasil penelitian yang telah dilakukan pada WPT dan mengklaim telah berhasil merancang sistem untuk mengirimkan daya secara nirkabel dari koil pengirim ke koil penerima yang mampu menyalakan 40 Lampu watt dengan jarak antar koil 18 cm.

Selain penelitian di atas, seorang peneliti dari Korea Selatan (Hwang, 2011) juga menerbitkan jurnal yang di dalamnya terdapat prinsip-prinsip dasar dari teknologi WPT ini. Prinsip dasar dari teknologi ini (transfer daya nirkabel) menurut Hwang adalah bahwa dua kumparan terpisah dengan frekuensi resonansi yang sama dapat membentuk sistem resonansi berdasarkan kopling magnetik frekuensi tinggi dan pertukaran daya dalam efisiensi tinggi, di mana efek kopling ini pada benda - benda di sekitar cenderung lemah karena bekerja pada frekuensi yang berbeda. 

Kemudian pada tahun 2012 yang dinyatakan dalam tugas akhir, Mahasiswa Teknik Elektro UNRAM telah berhasil mentransfer daya listrik yang kemudian digunakan untuk menyalakan LED dan mengisi baterai HP Nokia N95 sebagai beban dengan daya pengisian sebesar 2,18 mW dengan jarak 5 cm. Dimana untuk mendapatkan transfer daya yang maksimal pada jarak yang lebih jauh, dapat dilakukan dengan memodifikasi dimensi kumparan, menambah jumlah lilitan dan jenis bahan induktor yang digunakan serta meningkatkan kapasitas nilai kapasitor pada rangkaian pengirim (Kusuma, 2012).

Transfer daya nirkabel juga dikenal sebagai WPT (Wireless Power Transfer). Transfer daya listrik nirkabel atau wireless energy delivery adalah proses pengiriman energi dari sumber listrik ke beban listrik tanpa melalui perantara kabel. Transfer energi nirkabel ini berpotensi untuk digunakan untuk menyalakan peralatan elektronik yang membutuhkan daya yang relatif kecil (Wikipedia.org, 2012).

TRANSMISI DAYA LISTRIK TANPA KABEL

Pemindahan daya listrik dengan menggunakan media udara dapat digunakan untuk mendistribusikan energi dimana sumber energi dan beban terletak berjauhan. Salah satu keunggulan dari teknologi ini adalah dapat menembus benda-benda yang dilaluinya (kecuali bahan bimetal) sehingga tempat-tempat tertentu yang umumnya tidak memungkinkan untuk menyalurkan daya listrik melalui kabel, dapat dijangkau dengan teknologi ini. Namun dalam penelitian (MIT, LIPI, dll), WPT masih mentransmisikan energi dalam jumlah kecil dan pada jarak yang tidak terlalu jauh. Dan penerapannya juga pada alat yang membutuhkan energi yang relatif kecil.

Teori dasar transmisi listrik tanpa kabel

Sebagai contoh lain, prinsip induksi pada gambar di atas, dapat mentransmisikan daya listrik dari satu kumparan tanpa menyentuh kumparan lainnya, meskipun jaraknya masih sangat dekat. Selain transformator, prinsip radiasi elektromagnetik pada gelombang radio juga dapat mengirimkan energi listrik secara nirkabel, namun karena efisiensinya yang rendah, gelombang radio ini hanya berperan penting dalam dunia telekomunikasi dalam mentransmisikan informasi dan tidak dapat digunakan untuk mentransmisikan daya listrik dalam jumlah besar. Para ilmuwan juga telah mencoba memusatkan gelombang elektromagnetik seperti laser (tidak menyebar seperti gelombang elektromagnetik dalam gelombang radio), tetapi ini juga tidak praktis dan bahkan dapat merusak dan membahayakan umat manusia. Akhirnya ditemukan cara untuk dapat mentransmisikan energi listrik secara nirkabel yaitu dengan menggunakan prinsip resonansi magnetik, dimana energi ditransfer pada frekuensi yang sama ke pengirim dan penerima, sehingga tidak akan mempengaruhi benda-benda di sekitarnya yang memiliki frekuensi berbeda.

Pada transformator, arus listrik mengalir ke kumparan primer dan menginduksi kumparan sekunder, kedua kumparan ini tidak bersentuhan, tetapi berada dalam jarak yang sangat dekat. Tingkat efisiensi transformator akan sangat berkurang jika kedua kumparan ini dijauhkan. Selain trafo, sikat gigi elektrik pada gambar di atas juga menggunakan prinsip induksi yang sama dengan trafo, sikat gigi elektrik akan mengisi ulang baterai jika diletakkan pada tempatnya.

Tingkat efisiensi induksi elektromagnetik dapat ditingkatkan dengan menggunakan rangkaian resonator. Metode ini juga dikenal sebagai induksi resonansi, yang banyak digunakan dalam peralatan medis. Dengan menggunakan prinsip ini, sebuah perangkat telah berhasil dibuat yang dapat mengirimkan daya listrik secara nirkabel, melalui jarak yang jauh berbeda dari induksi tradisional.

Teknologi wireless power transfer yang dimaksud dalam artikel ini adalah teknologi yang tidak memancar dan mengacu pada konsep near-field. Banyak teknik lain dalam bidang pengiriman energi listrik secara nirkabel yang didasarkan pada teknik radiasi, baik untuk keperluan informasi seperti gelombang radio, sinar laser (narrow beams) maupun gelombang cahaya. Radiasi udara dari frekuensi dalam gelombang radio banyak digunakan untuk mengirimkan informasi secara nirkabel karena informasi dapat ditransmisikan ke segala arah untuk digunakan oleh banyak pengguna. Daya yang diterima pada setiap rangkaian penerima radio atau nirkabel sangat kecil, dan harus diperkuat lagi di rangkaian penerima menggunakan sumber daya eksternal. Karena sebagian besar daya radiasi terbuang di udara terbuka, transmisi radio ini sangat tidak efisien jika berfungsi untuk mentransmisikan daya listrik dalam jumlah besar. Untuk meningkatkan jumlah energi yang dapat ditangkap oleh rangkaian penerima, sisi rangkaian pemancar dapat diberikan daya yang lebih tinggi juga, tetapi ini tidak aman dan bahkan dapat mengganggu perangkat lain yang juga menggunakan frekuensi radio.

Radiasi langsung, menggunakan antena yang diarahkan langsung dari sumber ke penerima tanpa ada halangan untuk menembakkan energi menggunakan frekuensi radio. Dengan cara ini, energi yang dapat diterima oleh sirkuit penerima meningkat, tetapi metode ini juga berdampak langsung pada organisme dan dapat berbahaya. Oleh karena itu, metode ini juga tidak dapat digunakan dalam penyaluran energi listrik dengan daya besar seperti untuk industri, atau untuk konsumsi peralatan elektronik sehari-hari. Namun pada kenyataannya hal ini masih terus dikaji dan dieksplorasi untuk dapat menembakkan energi dari luar angkasa ke bumi sesuai konsep “solar space power” (Asimov, 1941), dan untuk kebutuhan pertahanan sebagai senjata mematikan yang bisa menembakkan energi. dari langit ke medan perang.

Teori dasar transmisi listrik tanpa kabel

Seperti yang telah dijelaskan di atas, konsep pengiriman daya listrik yang digunakan dalam artikel ini sangat berbeda dengan gelombang radio atau radiasi langsung, karena dalam proses pengiriman daya listrik tidak memerlukan kondisi yang mengharuskan tidak ada sekat antara rangkaian pemancar dengan sirkuit penerima.

PRINSIP INDUKSI ELEKTROMAGNETIK

Magnet dan listrik adalah dua fenomena alam yang prosesnya dapat dibalik. Ketika H.C. Oersted (1777-1851) membuktikan bahwa di sekitar kawat pembawa arus terdapat medan magnet (artinya listrik menciptakan magnet), para ilmuwan mulai memikirkan hubungan antara listrik dan magnet. Pada tahun 1821 Michael Faraday (1791-1867) membuktikan bahwa perubahan medan magnet dapat menimbulkan arus listrik (artinya magnet menghasilkan listrik) melalui percobaan yang sangat sederhana (Gambar 2.3). Sebuah magnet yang digerakkan masuk dan keluar dari sebuah kumparan dapat menghasilkan arus listrik pada kumparan tersebut.

Galvanometer merupakan alat yang dapat digunakan untuk mengetahui ada tidaknya arus listrik yang mengalir. Ketika magnet digerakkan masuk dan keluar kumparan, jarum galvanometer menyimpang ke kanan dan ke kiri. Pergerakan jarum galvanometer menunjukkan bahwa magnet yang digerakkan keluar masuk kumparan menimbulkan arus listrik. Arus listrik dapat terjadi jika pada ujung-ujung kumparan terdapat ggl (gaya gerak listrik). Ggl yang terjadi pada ujung-ujung kumparan disebut ggl induksi. Arus listrik hanya muncul ketika magnet bergerak. Jika magnet diam di dalam kumparan, maka tidak ada arus listrik di ujung kumparan.

PROSES TERJADINYA GGL INDUKSI

Ketika kutub utara magnet batang digerakkan ke dalam kumparan, jumlah garis gaya magnet dalam kumparan bertambah. Peningkatan jumlah garis gaya ini menyebabkan ggl induksi pada ujung-ujung kumparan. GGL induksi menyebabkan arus listrik mengalir menggerakan jarum galvanometer. Arah arus induksi dapat ditentukan dengan mengamati arah medan magnet yang ditimbulkannya. Ketika magnet masuk, garis-garis gaya pada kumparan bertambah. Akibatnya, medan magnet yang dihasilkan oleh arus induksi mengurangi garis gaya. Dengan demikian, ujung kumparan adalah kutub utara sehingga arah arus induksi seperti ditunjukkan pada Gambar 2.3(a).

Ketika kutub utara magnet batang dipindahkan dari kumparan, jumlah garis gaya magnet yang ada dalam kumparan berkurang. Pengurangan jumlah garis gaya ini juga menyebabkan ggl induksi pada ujung-ujung kumparan. GGL induksi menyebabkan arus listrik mengalir dan menggerakkan jarum galvanometer. Hal yang sama berlaku ketika magnet batang memasuki kumparan. Ketika magnet keluar, garis gaya dalam kumparan berkurang. Akibatnya, medan magnet yang dihasilkan oleh arus induksi menambah garis gaya. Dengan demikian, ujung kumparan adalah kutub selatan, sehingga arah arus induksi seperti pada Gambar 2.4 (b).

Ketika kutub utara magnet batang diam dalam kumparan, Gambar 2.4 (c), jumlah garis gaya magnet dalam kumparan tidak berubah (tetap). Karena jumlah garis gaya adalah konstan, maka tidak ada ggl induksi pada ujung-ujung kumparan. Akibatnya tidak ada arus listrik dan jarum galvanometer tidak bergerak. Jadi, ggl induksi dapat terjadi pada kedua ujung kumparan jika terjadi perubahan jumlah garis gaya magnet (fluks magnet) di dalam kumparan. GGL yang timbul karena perubahan jumlah garis gaya magnet dalam kumparan disebut ggl induksi. Arus listrik yang dibangkitkan oleh ggl induksi disebut arus induksi. Terjadinya ggl induksi dan arus induksi akibat perubahan jumlah garis gaya magnet disebut induksi elektromagnetik.

Transmisi daya listrik tanpa kabel (Wireless)
Gambar 2.3

FAKTOR EMF

Besarnya ggl induksi dapat dilihat pada besar kecilnya simpangan sudut jarum galvanometer. Jika sudut deviasi jarum galvanometer besar, ggl induksi dan arus induksi yang dihasilkan besar. Ada tiga faktor yang mempengaruhi ggl induksi, yaitu:

  1. Kecepatan gerak magnet atau laju perubahan jumlah garis gaya magnet (fluks magnet)
  2. Jumlah belokan (N)
  3. Medan magnet (B)

Seperti fluks listrik, fluks magnet juga dapat digambarkan sebagai jumlah garis medan yang melewati suatu permukaan.

Fluks listrik yang dihasilkan oleh medan B pada permukaan dengan luas dA adalah :

Eksperimen yang dilakukan oleh Faraday menunjukkan bahwa perubahan fluks magnet pada permukaan yang dibatasi oleh jalur tertutup akan menyebabkan ggl. Faraday menyimpulkan bahwa besarnya ggl yang timbul adalah :


HUKUM LENZ

Tanda negatif hukum Faraday berhubungan dengan arah ggl induksi. Hukum Lenz (1804-1865) menyatakan bahwa arah arus induksi sedemikian rupa sehingga menciptakan medan magnet induksi yang berlawanan dengan arah perubahan medan magnet.

Dari Gambar 2.6 (a) di atas, dapat dilihat bahwa jika medan magnet bertambah (ke atas), medan magnet induksi akan muncul berlawanan arah dengan medan magnet utama (ke bawah), medan induksi ini akan menghasilkan ggl induksi di kumparan berlawanan arah. disesuaikan menurut aturan tangan kanan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.6 (b).

INDUKTANSI DIRI

Dari penjelasan hukum Biot-Savart dan hukum Ampere (Jean Baptista Biot (1774–1862), Victor Savart (1803–1862), telah ditunjukkan bahwa adanya arus listrik yang mengalir dalam suatu penghantar menyebabkan medan magnet di sekitar penghantar magnet yang dihasilkan sebanding dengan besarnya arus listrik yang mengalir, contoh :

Persamaan (2.8) sampai (2.10) menunjukkan bahwa B sebanding dengan I, dan karena dari persamaan (2.2) diperoleh bahwa B sebanding dengan theta , fluks magnet juga sebanding dengan nilai I. Oleh karena itu, konstanta proporsional dapat diperoleh, yaitu :

Dimana L adalah konstanta proporsional antara fluks dan I yang disebut induktansi (sendiri) suatu sistem. Karena dalam hukum Faraday, perubahan fluks listrik dapat menimbulkan ggl, maka persamaan (2.7) dapat dinyatakan dengan :

INDUKTANSI BERSAMA

Arus pada kumparan 1 (Gambar 2.9), akan menghasilkan medan magnet yang fluks magnetnya akan mempengaruhi kumparan 2. Jika berubah, maka medan magnet pada kumparan 1 juga akan berubah, dan hal ini akan menyebabkan terjadinya ggl induksi pada kumparan 2 Pada kumparan 2 arus akan mengalir pada kumparan 2 dan akan menghasilkan medan magnet yang juga akan mempengaruhi kumparan 1, hal ini disebut induktansi timbal balik (M), yang menurut hukum Faraday adalah :


PRINSIP RESONANSI ELEKTROMAGNETIK

Fenomena resonansi tersebar luas di alam ini. Berbagai jenis resonansi juga mengandung energi yang berbeda. Bunyi garpu tala dihasilkan dari resonansi, seperti halnya gempa bumi akibat resonansi, tetapi energi gempa jauh lebih besar daripada bunyi garpu tala.

Resonansi merupakan gejala suatu sistem yang dalam suatu frekuensi cenderung menyerap lebih banyak energi dari lingkungan. Dengan kata lain, resonansi adalah fenomena dimana jika suatu benda atau benda bergetar, maka benda lain dengan frekuensi yang sama juga akan bergetar. Resonansi dapat mengirimkan energi. Sebagai contoh sederhana, jika ada 2 garpu tala dengan frekuensi yang sama dan jarak yang cukup, kemudian jika garpu tala kita menekan A sehingga mengeluarkan bunyi, maka ketika garpu tala A kita pegang sampai bunyi berhenti, garpu tala tersebut B akan terdengar juga meskipun tidak. kami memukul. Ini adalah fenomena resonansi akustik. Energi yang membuat garpu tala B bergetar dihasilkan dari gelombang suara dari garpu tala A yang mediumnya adalah medan bunyi. Dapat dikatakan bahwa inti dari rambatan getaran ini adalah transmisi energi. Mirip dengan medan suara, ini juga bisa terjadi di medan elektromagnetik.

RESONANSI ELEKTROMAGNETIK

Resonansi elektromagnetik ada secara luas dalam sistem elektromagnetik. Medan elektromagnetik sendiri merupakan medan energi yang dapat memberikan energi untuk digunakan dalam proses aliran listrik. Mengingat bahaya bagi manusia dan organisme lain di medan listrik, medan magnet aman dan lebih cocok untuk digunakan sebagai media pengiriman energi dalam transfer energi resonansi magnetik.

Gelombang elektromagnetik adalah gelombang yang dapat merambat meskipun tidak ada medium dan terdiri dari medan listrik dan medan magnet seperti yang diilustrasikan pada Gambar 2.11. Radiasi gelombang elektromanetik itu sendiri mengandung energi. Tidak peduli apakah ada penerima atau tidak, energi gelombang elektromagnetik terus dikonsumsi. Jika kita dapat membuat medan magnet yang tidak memancar dengan frekuensi resonansi tertentu, kumparan induktansi akan terus mengumpulkan energi, tegangan penerima akan meningkat, dan energi yang diterima dapat ditransmisikan ke beban setelah diubah oleh rangkaian tambahan.

Secara umum, sistem elektromagnetik dengan frekuensi resonansi yang sama memiliki kelemahan dalam rentang tertentu. Dua sistem dengan frekuensi resonansi yang sama akan menghasilkan resonansi magnetik yang kuat dan membentuk sistem resonansi magnetik. Jika ada lebih dari dua generator resonansi dalam jangkauan efektif, mereka juga dapat bergabung dengan sistem resonansi magnetik ini. Satu resonator dapat dihubungkan ke catu daya terus menerus untuk bertindak sebagai sumber energi dan yang lainnya mengkonsumsi energi, sehingga sistem pengiriman energi ini dapat diwujudkan. Dengan kata lain, sistem ini dapat mengirimkan energi dari satu tempat ke tempat lain melalui medan magnet yang tidak terlihat (nirkabel), bukan dengan cara biasa melalui kabel listrik yang terlihat.

PRINSIP RESONANSI BERSAMA

Prinsip dasar induksi elektromagnetik adalah ketika arus bolak-balik melewati sebuah kumparan, disekitar kumparan akan menghasilkan medan magnet. Jika dalam kondisi ini kumparan lain ditempatkan di dekat kumparan, medan magnet dari kumparan pertama juga akan muncul di sekitar kumparan kedua. Inilah alasan mengapa transfer energi nirkabel dapat terjadi antara dua kumparan. Seperti dijelaskan sebelumnya, resonansi timbal balik adalah keadaan khusus pengiriman energi nirkabel. Lokasi khusus adalah bahwa semua kumparan yang digunakan untuk beresonansi bersama-sama beroperasi di bawah kondisi resonansi.

Gambar 2.12

Resonansi terjadi ketika frekuensi resonansi diri kumparan sama dengan frekuensi sumber arus bolak-balik, ketika rangkaian ekivalen kumparan pada frekuensi tinggi memiliki impedansi terkecil. Pada saat seperti ini, sebagian besar energi dapat dikirim melalui jalur resonansi. Gambar 2.12 menunjukkan terjadinya proses resonansi magnetik gabungan, warna kuning menunjukkan kumparan yang memiliki frekuensi resonansi yang sama, warna biru dan merah menunjukkan medan magnet yang ditimbulkan pada kumparan, keduanya identik satu sama lain, hal ini deskripsi sederhana tentang resonansi timbal balik.

LC circuit

Rangkaian LC (Gambar 2.13) merupakan rangkaian resonansi yang terdiri dari induktor (L) dan kapasitor (C). Sirkuit LC biasanya digunakan untuk menghasilkan sumber arus bolak-balik atau sebagai generator sinyal.

Gambar 2.13

PRINSIP KERJA RANGKAIAN lC

Prinsip kerja rangkaian LC agar dapat menghasilkan sinyal bolak-balik atau osilasi adalah dengan menggunakan kapasitor dan induktor. Kapasitor menyimpan energi dalam medan listrik antara dua pelat, berdasarkan besarnya tegangan antara kedua pelat, sedangkan induktor menyimpan energi dalam medan magnet, berdasarkan besarnya arus yang melalui induktor. Gambar 2.14 menjelaskan prinsip kerja rangkaian LC.

Gambar 2.14

Pada Gambar 2.14 di atas, posisi paling kiri menunjukkan awal, t = 0 atau t = T, di mana nilai kapasitor maksimum, dan tidak ada arus yang mengalir. Ketika sakelar mulai menutup, yaitu antara t = 0 hingga t = T/4, terjadi rangkaian tertutup, kapasitor mulai melepaskan, dan arus mengalir berlawanan arah jarum jam ke induktor dan terus meningkat.

Pada kondisi t = T/4, kapasitor memiliki nilai minimum, arus maksimum mengalir dan masih berlawanan arah jarum jam. Dari t = T/4 ke t = T/2, arus terus mengalir mengisi kapasitor dengan sisi yang berlawanan, dan arus yang mengalir mulai berkurang.

Pada waktu t = T/2, tidak ada lagi arus yang mengalir dalam rangkaian, dan kapasitor maksimum. Dari t = T/2 hingga t = 3T/4, kapasitor mulai kosong, dan arus mengalir searah jarum jam dan terus meningkat.

Pada waktu t = 3T/4, kapasitor kosong, arus maksimum mengalir melalui induktor searah jarum jam.

Dari t = 3T/4 ke t = T, kapasitor mulai mengisi kembali, arus mengalir ke kapasitor dengan sisi yang sama dengan sisi awal searah jarum jam dan terus berkurang hingga kapasitor penuh.

Hal ini terus berulang ke awal, sehingga diperoleh sinyal bolak-balik.

RANGKAIAN OSILASI LC

Gambar 2.15

Mengacu pada Gambar 2.15, ketika sakelar ditutup, tegangan yang melintasi kapasitor dan induktor adalah sama.



Sesuaikan kedua sisi, dan kita tahu bahwa i = -dq/dt, sehingga persamaan 2.19 dapat ditulis,



Jika kita memberikan batasan dimana i = 0, ketika t = 0, karena arus (induktor tidak dapat berubah secara langsung), maka kita dapat menentukan nilai kapasitansi kapasitor saat pengisian dengan mengintegrasikan arus (i) dan mengalikan -1, maka diperoleh ,


Struktur Pengiriman Daya Tanpa Kabel


Gambar 2.17

Pada Gambar 2.17 di atas, diagram skema sederhana dari sistem pengiriman daya nirkabel ditunjukkan dengan menggunakan prinsip induksi resonansi magnetik. Blok di sebelah kiri (ditandai dengan garis putus-putus) adalah sirkuit pemancar, sedangkan blok di sebelah kanan adalah sirkuit penerima untuk sistem. Pada pemancar, sumber daya arus bolak-balik disearahkan terlebih dahulu dengan modul DC, kemudian masuk ke rangkaian LC, dalam hal ini Ls dan Cs, untuk membuat generator sinyal medan magnet bolak-balik non-radiatif. Frekuensi resonansi dari rangkaian LC ini disebut.

Pada sisi rangkaian penerima juga terdapat rangkaian LC, dimana Lt dan Ct berfungsi untuk membangkitkan resonansi dari medan magnet yang dibangkitkan oleh rangkaian transmitter untuk menerima daya listrik. Frekuensi rangkaian penerima disebut.

Nilai frekuensi resonansi magnetik pada ujung penerima sangat ditentukan oleh frekuensi resonansi magnetik pada rangkaian pemancar. Semakin dekat nilainya atau sama dengan, semakin besar nilai arus resonansinya, semakin kuat medan magnetnya dan semakin besar daya listrik yang dapat diterima atau ditransmisikan.

Pada rangkaian penerima perlu ditegaskan bahwa rangkaian LC tidak harus sama untuk mentransmisikan daya listrik, selama frekuensi resonansinya sama ( = ), maka sistem penyaluran daya listrik nirkabel dengan menggunakan induksi resonansi magnetik dapat masih bekerja.

Semakin jauh jarak dari rangkaian pemancar ke rangkaian penerima, semakin kecil daya listrik yang dapat diterima oleh rangkaian penerima.

Proses pengiriman daya listrik tanpa kabel tetap dapat mentransmisikan daya listrik meskipun terhalang oleh berbagai benda non logam, namun jika terhalang oleh logam, maka daya listrik tersebut tidak dapat diterima oleh rangkaian penerima.

Rahma
Rahma Hai there, my name is Rahma. I am from Indonesia. Hope you enjoyed this blog.. Thank you for visit..

13 komentar untuk "Transmisi daya listrik tanpa kabel (Wireless)"

  1. Makasih infonya bro.....
    Saya suka elektronik dn kali ini lagi butuh info tentang alat atau rangkaian yg bs mengubah gelombang elektromagnetik jadi listrik. Simpelnya antena penangkapnya baiknya seperti apa desainya....thanks.

    BalasHapus
  2. dear mas sugeng, kalo ditanya mengenai design rceiver nya ya trgantung transmitter nya sih mas. Krn ini kan menggunakan prinsip resoonansi magnetik, di mana frequensi di sisi penerima sama dengan pengirim

    BalasHapus
  3. Bagaimana menambah jauh aliran listrik tanpa kabel

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang saya pahami caranya adalah memperbesar medan magnetnya

      Hapus
  4. Bagaimana menambah jauh aliran listrik tanpa kabel

    BalasHapus
  5. Apakah besar magnet yang bisa menjauhkan listrik atau lilitan logam yang bisa menambahkan listrik,,,

    BalasHapus
  6. Dear mb Aryati, untk meanmbah jarak transfer listrik tanpa kabel, yg paling mendasar untk diperhatikan adalah deaign transmitter dan receiver nya

    BalasHapus
  7. bang,untuk perancangan pengiriman energi listrik tanpa kabel kita harus mengetahui diameter kawat,diameter lingkaran pada kumparan dan berapa banyak lilitan yang kita butuhkan. bagaimana untuk mengatahuinya supaya perancangan yang kita buat itu bagus bang ? dan bagusnya brp diameter yang dibutuhkan dan jumlah lilitannya bang ?

    BalasHapus
  8. contohnya untuk menghidupkan sebuah LED atau elektronik lainnya yang membutuhkan tegangan 12V dan 14watt

    BalasHapus
  9. Boby@, coba baca bab 4 saya sob. Jawaban pertnyaanya sharusnya ada di situ. Inti dari sebuah lilitan yg akan kita buat (baik transmitter maupun receiver) adalah nilai induktansi lilitan dalam henry. Jika kita sudh menetapkan nilai induktansi yb kita perlukan, maka nyari parameter2 yg lain gampang

    BalasHapus
  10. Boby@, coba baca bab 4 saya sob. Jawaban pertnyaanya sharusnya ada di situ. Inti dari sebuah lilitan yg akan kita buat (baik transmitter maupun receiver) adalah nilai induktansi lilitan dalam henry. Jika kita sudh menetapkan nilai induktansi yb kita perlukan, maka nyari parameter2 yg lain gampang

    BalasHapus
  11. maaf bang,saya masih bingung. bisa mintak contact personnya bang,karna banyak hal yang ingin saya tanyakan. mohon bantuannya bang.

    BalasHapus